POSTER TEMA BULLYING


Konsep Pembuatan Poster
Poster yang bertema Bullying ( kekerasan terhadap anak) ini dibuat dengan tujuan menyampaikan pesan terhadap masyarakat untuk menghentikan  kekerasan terhadap anak, karena dampak kekerasan terhadap anak bukan hanya terlihat pada fisik tetapi juga mental yang sangat berpengaruh pada masa depan anak.
Poster menggunakan background berwarna putih untuk menampilkan kesan perdamaian.  Yang mana perdamaian adalah hal yang diharapkan pada pesan poster ini. Pada typhografi kata  “Stop Bullying Now” , kata ‘Stop” memakai warna merah untuk menguatkan kata peringatan ini. Kata “bullying” dan “now” dibuat dengan warna hitam dengan typhografi yang kuat. Untuk mewakilkan kekerasan pada anak dan ketegasan isi pesan. Pada poster ini terdapat gambar ilustrasi icon anak kecil yang tertekan oleh sekelompok orang dewasa. Gambar ini digunakan sebagai ilustrasi penguat pada tema poster.
Target sasaran poster ini ditujukan kepada kalangan pendidikan khususnya guru dan  masyarakat yang mengikuti organisasi sosial tentang perlindungan anak.

Penerapan Logo Trans Godek

Bus Trans Godek - Transportasi Grogol Depok

Desainer Web harus bisa Coding?

Desainer Web Harus Bisa Coding?

desainer_web_harus_bisa_coding
Mari kita berdiskusi tentang hal ini, tapi sebelumnya saya mau menyampaikan pendapat tentang “Apakah desainer web harus bisa coding?”. Jujur saja, saya jadi agak sedikit gatal setelah membaca salah satu artikel dan beberapa komentar dari Elliot Jay Stocks.

Harus Bisa?

desainer_web_harus_bisa_coding_harus
Apakah desainer web harus bisa coding? Tidak selalu! Tetapi harus ‘mengerti’ bagaimana website itu nanti akan di coding. Yang artinya, semua elemen desain yang kita buat di Photoshop harus code-able. Coba intip sedikit tips tentang persiapan mendesain website.
Saya mengakui, saya tidak merasa nyaman melakukan coding sendiri. Jangan salah, bukan karena saya malas, saya pernah mencobanya dan bahkan beberapa hari yang lalu sempat belajar css basic karena melihat video tutorial dari Prakasa. (it’s a good one by the way!).
Namun saya masih merasa kesulitan mengulang pelajaran video tutorial itu dari awal (jika tidak melihat contoh/videonya), mungkin itu karena keterbatasan saya? (sering lupa code yang sudah di pakai). Yang terpenting adalah sekarang saya ‘mengerti’ cara meng-coding sebuah website dan hal ini tentu saja akan menambah dasar pemikiran saya pada saat mendesain website di Photoshop.

Pertimbangan Kemampuan, Waktu dan Kesempatan

desainer_web_harus_bisa_coding_kesempatan
Kenapa saya tidak meng-coding website (personal dan komersial) saya sendiri?
Pertama, karena saya merasa kemampuan saya bukan di coding, dan lebih banyak teman yang sangat berkompetensi sekali dalam hal coding, yang bisa di ajak berkerjasama dalam suatu projek website.
Kedua, waktu yang di perlukan untuk coding cukup lama, jadi saya lebih baik melimpahkan bagian code ke seseorang yang bisa di percaya, dan saya bisa melanjutkan ke projek lainnya (yang artinya perputaran projek akan lebih menguntungkan dan sistem kerja menjadi lebih efisien dan efektif).
Ketiga, belum banyak web desainer yang mengkhususkan diri pada bagian interface dan pengaturan alur informasi pada website. Hal tersebut sedikit sekali berhubungan dengan coding, ini merupakan konsep awal sebuah website. Dan menurut saya bagian ini sama pentingnya dengan code. Percuma website berfitur canggih, efek jquery mencengangkan, tetapi desainnya sungguh menyakitkan hati.

Akhirnya…

Sebagai kesimpulan, seorang desainer web harus ‘mengerti’ coding tetapi tidak harus ‘bisa’ meng-coding. Tentu saja akan lebih bagus jika ‘bisa mengerjakan’ code desainnya sendiri. Dan yang terpenting kita harus menyadari kemampuan kita yang sebenarnya berada di bagian mana.
Seperti yang kita tahu, website jaman sekarang sudah melibatkan banyak elemen, mulai dari interface (desain), code, copywriting, SEO bahkan sampai ke teknik marketing online. Apakah menurut kamu satu orang bisa memberikan semua itu?. Website bukan sekedar PSD to CSS/Html, website lebih dari itu.
Sekarang giliran kamu :) silakan berkomentar! atau bila berkomentar tidak cukup, kamu bisa membuat posting sendiri di blog kamu dan link balik ke posting ini supaya teman-teman yang lain bisa tetap mengikuti topik hangat ini :D

Trans Godek

Logo Trans Godek (Transportasi Grogol - Depok)

Saatnya Desainer Grafis Bertindak Global

Alasan utama kenapa kita mengambil bidang desain grafis adalah karena kita mempunyai gairah dan ketertarikan khusus terhadap bidang ini. Dan semakin lama kita mendalami desain, kita tahu bahwa profesi desainer grafis tidak salah lagi merupakan profesi yang mempunyai peluang cerah.

Namun sayangnya dari artikel yang saya baca di Desain Grafis Indonesia, tentang kritik terhadap pendidikan desain grafis di Indonesia, sangat terlihat sekali dan pasti kita semua merasakannya. Bahwa sebenarnya walaupun pendidikan desain grafis sudah di mulai sejak tahun 1950-an, tetapi baik industri dan pendidikan nya masih belum bisa di anggap dewasa hingga sekarang ini.

Masalah Industri Desain Lokal

Tidak jarang kita sebagai desainer menemukan permasalahan klasik, seperti klien yang belum bisa menghargai desain kita (biasanya di tunjukkan dengan sikap “hanya mau bayar murah”), memang tidak semua klien lokal seperti itu. Banyak juga yang sudah mengerti desain dan menganggap desain adalah salah satu investasi juga untuk bisnis nya. Tapi jujur saja, prosentase nya sungguh tidak sebanding dengan yang belum teredukasi.
Masalah jenjang karir juga menjadi masalah. Di dunia perkuliahan kita di pupuk untuk menjadi desainer yang siap kerja, siap pakai, siap untuk masuk industri. Sehingga kita cenderung berpikir untuk bekerja dengan orang lain, dengan berkarir mulai dari desainer junior, desainer senior, art director, creative director sampai di tawarkan sebagian saham perusahaan, lalu apalagi?
Jadi, bagaimana dengan kita sebagai desainer grafis yang hidup di Indonesia? Bagaimana kita bisa bertahan hidup dengan berprofesi sebagai desainer grafis? Karena tidak jarang, banyak yang kuliah desain tetapi ujungnya malah tidak berprofesi sebagai desainer. Hanya disebabkan karena mereka menyerah di tengah jalan, mengganggap bahwa industri desain lokal masih belum dewasa dan klien belum bisa memberikan ‘penghargaan’ yang pantas. Walaupun bisa juga di sebabkan oleh berbagai faktor luar, seperti harus meneruskan bisnis keluarga, dan lainnya.

Global Hanya Sejauh Satu Klik

Beruntunglah kita mengalami masa dimana dunia menjadi sangat sempit dengan kehadiran internet. Tempat dan negara yang dulu kita rasa sangat jauh, sekarang hanya berjarak satu klik dan beberapa kata di layar monitor. Internet menciptakan budaya baru, dimana kita bisa nyaman berinteraksi dan bahkan saling mempercayai manusia lain, di benua lain hanya dengan di jembatani oleh kumpulan data dan pixel.
Yang pasti, kesempatan menjadi sangat terbuka lebar bagi semua, baik yang profesional maupun yang baru mulai terjun.
Yang kita butuhkan hanya kesadaran dan kemauan untuk mengambil beberapa bagian kecil dari kesempatan yang tak terbatas itu. Dan dengan sendirinya berbagai kesempatan yang lain akan datang kepada kita.

The Me Company

Mulailah berpikir bahwa profesi desainer itu seperti mendirikan sebuah perusahaan, tapi bedanya perusahaan ini hanya terdiri dari satu orang, yaitu diri kamu sendiri. Pengalaman memang penting, dan bekerja dengan orang lain adalah salah satu caranya, tetapi jangan sampai terlalu lama terlena. Jika kamu sudah 3 tahun lebih bekerja dengan orang lain, mungkin kamu harus memikirkan untuk berkarir sendiri.
Lebih bagus lagi jika kamu masih di bangku sekolah (SMP, SMA dan Kuliah), kamu lebih punya banyak waktu dan kesempatan untuk memulai karir kamu, sehingga pada saatnya nanti kamu sudah sangat siap untuk berjalan sendiri (tentu pengalaman juga akan lebih banyak).
Tulisan ini tidak bermaksud membuat kamu yang sekarang sedang bekerja dengan orang lain untuk berhenti sekarang juga dan memulai karir sendiri. Tentu tidak semudah itu (tetapi sangat mengasyikan! kalau kamu berjiwa pemberontak dan suka tantangan), banyak hal yang harus dipikirkan sebelum memulai, tapi setidaknya “berkarir sendiri dengan media internet” sudah terlintas di pikiran kamu.

Stop Memikirkan Ide Sempurna, Mulailah Mewujudkan Ide Apa Saja. Sekarang!

Media dan sarana (Internet) sudah tersedia, yang kita butuhkan adalah urutan langkah kecil untuk menjadi besar.
Bagaimana dengan kamu? Sudah siap?